Jumat, 17 Februari 2012

Untuk mu kakek


Ini adalah sebuah kisah indahku bersamanya, salah satu orang yg paling kusayangi. Dia adalah inspirasi terbesar dalam hidupku. Dia adalah sosok yg selalu ku teladani. Dia adalah kakek yg ku sayangi.

Semenjak aku kecil hingga remaja, aku selalu nyaman berada didekatnya, karena kasih sayangnya yg begitu terasa pekat bagi keluarga. Dia adalah sosok pemimpin yg disegani dan disayangi bagi semua orang yg mengenalnya.

Kakek..
Banyak kisah yg kualami bersama kakek. Dan aku menikmati dan akan terus mengenang setiap kisah yg kulalui bersamanya. Bagi ku, kakek adalah orang yg penuh akan kasih sayang, mencintai keluarganya, disiplin terhadap waktu, pemimpin yg bersahaja, dan selalu pengertian kepada keluarga. Kakek adalah pria yg berhati lembut dan jarang sekali marah, dia selalu sabar menghadapi setiap masalah.

Dulu aku sering sekali menginap di rumah kakek, setiap weekend atau hari libur sekolah, aku pasti berkunjung atau menginap di rumah kakek. Aku merasa nyaman tinggal disana, setidaknya aku tidak merasa kesepian karena ada kakek, walaupun kakek jarang sekali mengobrol dengan ku, tapi ntah kenapa aku selalu nyaman ada didekatnya. Dia adalah sosok yg penuh kasih sayang. Ketika aku tidur, dia selalu memberikan ku selimut agar tidak kedinginan, dan dia selalu menyempatkan diri mengajak cucunya jalan-jalan walaupun dia sangat sibuk. Bukan cuma aku yg merasakan seperti demikian bahkan semua saudara dan sepupuku juga merasakan hal yg sama dengan ku.
Kakek juga sering berkunjung ke rumah ku untuk melihat keadaan anak dan cucunya. Setiap dia berkunjung, pasti dia selalu membawa makanan kesukaan ku.

Kakek adalah orang yg sangat sibuk dan sangat berkomitmen dengan pekerjannya, bahkan hingga dia pensiun, dia sering keluar kota untuk mengajar, karena profesinya sebagai dosen. Mungkin hampir seluruh daerah di RIAU ne sudah pernah disinggahinya.

Aku ingat waktu aku kecil, aku sering menelponnya agar dia menjemputku untuk menginap di rumahnya. Walaupun dia adalah sosok yg sangat disegani. Tapi dia tidak pernah bersifat arogan. Dia selalu menjemputku ketika aku menelponnya untuk minta dijemput olehnya dan menghabiskan masa libur ku di rumahnya. Aku sangat senang pada waktu itu.

Aku juga ingat ketika malam terakhir sebelum dia jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit. Malam itu keluarga besarku berkumpul dan berbincang hingga larut malam, waktu itu bulan puasa, kami berbincang sehabis sholat tarawih di masjid sekitar situ. Banyak hal-hal menarik yang sebelumnya tidak aku ketahui, yaitu kisah hidup kakek waktu kecil. Waktu itu nenek ku yg menceritakannya, nenek bercerita banyak tentang kakek. Bagaimana kehidupan kakek waktu kecil, bagaimana susahnya kakek hingga dia menjadi seorang yg sukses.
Kata nenek, dulu kakek hidupnya sangat susah, bahkan untuk membiayai sekolahnya dia harus mencari kayu bakar untuk dijual. Bahkan saat dia merantau di pekanbaru, dia sempat bekerja sebagai penjaga pagar di UNRI, dan akhirnya dia juga melanjutkan sekolahnya di UNRI hingga selesai. Semua jerih payahnya akhirnya terbayar dan dia akhirnya menjadi seorang yg suksès dan disegani orang banyak. Mendengar nenek bercerita tentangnya, kakek hanya bisa diam. Mungkin dia tidak mau menyombongkan dirinya.
Ketika waktu sahur, kami masih sempat sahur seperti biasanya, dan kakek sangat terlihat sehat waktu itu. Tapi pada saat subuh, saat kakek memberi ceramah subuh di masjid, tiba-tiba suara kakek menjadi tidak karuan dan akhirnya ia terjatuh dari mimbar untung orang disekeliling cepat sigap waktu itu, dan menyambut kakek hingga ia tidak terhempas jatuh. Saat itu aku menemukan kakek dalam keadaan yg sangat buruk. Warga sekitar segera mémbawa kakek ke rumah sakit. Dan dari hasil laboratorium di ketahui bahwa ada pembuluh darah di otaknya pecah. Aku sangat sedih waktu itu, karena melihat kakek hanya terbaring dan separuh anggota tubuhnya kaku. Kondisinya semakin buruk, dan akhirnya, tepat saat azan subuh pada hari jum'at bulan ramadhan, kakek menghembuskan nafas terakhirnya dan meninggalkan kami semua.
Dulu aku fikir, aku adalah orang yg tidak bisa mengeluarkan air mata, tapi aku salah. Saat itu aku tak pernah berhenti menangis karena kehilangan orang yg sangat kusayangi. Aku sangat sedih kètika aku melihat tubuh kakek hanya terbujur kaku. Tubuh orang yg sangat berarti dalam hidupku.
Saat itu aku bertekat akan menjadi orang yang lebih baik, orang yg taat kepada perintah Allah, yg berguna bagi orang banyak . Agar kakek bangga melihatku dari sana..

Aku sayang kakek..

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...